Belajar Menjadi Pemimpin yang Bijaksana

Untuk Menjadi Pemimpin yang Bijaksana, Kita Perlu Meluruskan Persepsi tentang Makna Kepemimpinan

Pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan.
Sementara kepemimpinan adalah sebuah peran bukan sekedar posisi.

Banyak di antara kita yang memiliki kompetensi tapi kompetensi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk perkembangan organisasi yang kita jalani. Kompetensi itu banyak yang terpendam dan kurang berkembang, bahkan ada beberapa yang tidak muncul. Mereka inilah orang-orang yang terjebak dalam position trap (jebakan posisi). Sebuah jebakan yang cukup berbahaya yang berefek pada kehidupan personal seseorang dan performance organisasi. Mereka inilah orang-orang yang hanya berfikir: saya hanya orang biasa dan bukan siapa-siapa, itu kan kewajiban ketuanya, biarkan BPH, alumni atau guru saja yang memutuskan, kita tunggu saja nanti hasilnya, iya nih ketuanya belum ngajak rapat sih, saya enggak enak sama ketuanya, dan kata-kata sejenisnya.

Mari kita lihat persepsi kepemimpinan, agar kita bisa terhindar dari jebakan-jebakan di atas. Sebelumnya, kita ingat dulu esensi penciptaan kita sebagai manusia, yaitu untuk beribadah dan menjadi pemimpin. Sekarang kita fokus pada kata pemimpin (khalifah),

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi.” (Q.S. Fathir: 39)

Ternyata, khalifah yang dimaksud adalah peran, bukan posisi. Secara rasional, kalau yang dimaksud adalah posisi, akan jadi aneh, karena tidak semuanya mendapatkan kesempatan untuk menjadi khalifah. Tidak semua orang pernah dan harus menjadi pemimpin, ketua atau presiden ‘kan? Bisa jadi sangat rancu kalau persepsi yang dipakai adalah posisi.

Adapun ayat yang sering kita dengar,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (Q.S. Al-Hujarat: 13)

Dan taqwa tidak diukur dari posisi, ketua belum tentu lebih bertaqwa dari anggotanya, begitu juga sebaliknya. Taqwa adalah representasi dari ibadah, kontribusi dan peran. Bukan posisi. Begitu juga dengan kepemimpinan, khalifah atau masuliyah, semuanya berbicara pada esensi peran dan kontribusi, bukan posisi. Jadi, dengan persepsi ini, kita tidak langsung bisa mengatakan presiden, gubernur, menteri sebagai pemimpin. Begitu juga dengan dokter, pengacara, pengusaha, tidak bisa langsung didefinisikan kalau mereka bukan pemimpin. Presiden, gubernur, menteri, dokter, pengusaha, pengacara, adalah profesi. Sedangkan pemimpin (leader), bukanlah profesi, tapi peran yang dilihat dari kualitas personal. Walaupun memang ada profesi yang menuntut peran kepemimpinan yang lebih tinggi daripada yang lain, seperti presiden, gubernur dan sejenisnya.

Nah, kalau kita tarik persepsi tersebut dalam konteks pemimpin dan anggotanya, anggap saja pemimpin dan anggota hanyalah pembagian posisi yang memudahkan proses organisasi kita untuk mencapai tujuan, dengan etika dan perannya masing-masing. Memang pemimpin dituntut memiliki peran kepemimpinan yang besar, tapi bukan berarti anggota tidak memiliki peran kepemimpinan tersebut, atau tidak boleh memiliki peran kepemimpinan yang lebih besar dari pemimpinnya. Sekali lagi, peran dan kontribusi tersebut menyangkut kualitas personal, yang ditentukan dari dalam diri sendiri berdasarkan kompetensi, peran dan kontribusi yang diberikan kepada orang lain, juga hubungannya dengan Allah dan sesama manusia. Nah, inilah keunikan sekaligus kerumitannya, manakala ada anggota yang memiliki peran dan kontribusi yang lebih besar dari pemimpinnya. Manakala sang pemimpin masih belum bisa menjadi teladan yang baik untuk anggotanya. Manakala, anggotanya jauh lebih dominan dari pemimpinnya. Manakala sense of belonging tumbuh dengan subur dalam benak anggotanya, tapi masih tumbuh tertatih di hati pemimpinnya. Dan Maha suci Allah yang menciptakan fenomena tersebut, yang mengajari hamba-Nya untuk senantiasa mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Semoga Allah juga merahmati Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yang mempersyaratkan kombinasi antara pemimpin yang ikhlas dan anggota yang taat dalam hubungan amal jama’i-nya.

Keduanya, pemimpin dan anggota, harus sama-sama memiliki persepsi dan tujuan yang sama. Bahwa keberadaan mereka di dalam organisasi adalah untuk melayani publik, untuk memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, mengajak sebanyak mungkin orang dalam proses kebaikan tersebut, agar Allah semakin sayang padanya dan bersedia memberikan syurga-Nya. keberadaan mereka bukan untuk eksistensi personal, kepentingan pribadi atau urusan dunia lainnya. Dan menjadi tidak penting siapa yang mencapai tujuan kebaikan yang kita buat, karena yang paling penting adalah tujuan itu tercapai, dan yang harus kita pastikan adalah kita ikut berkontribusi dalam mencapai tujuan tersebut.

Kalau sudah paham esensi kepemimpinan dan persepsi di atas, mereka akan saling berlomba dalam beramal, tidak pernah mementingkan atau melihat yang namanya posisi. Pemimpinnya akan sangat bahagia dan open mind manakala memiliki anggota yang beramal dan memiliki peran serta kontribusi yang lebih baik dari pada dirinya, akan senang untuk diingatkan dan ditegur oleh anggotanya manakala dia berada pada jalur yang salah, begitu juga sebaliknya, anggotanya akan berkontribusi dengan optimal, dengan segenap kekuatan yang ada, sebagai apapun dirinya, dan tidak segan untuk saling mengingatkan. Anggotanya juga akan tetap menampilkan performance terbaiknya, dengan tetap ihtirom (menghormati) pemimpin dan saudaranya yang lain, juga menghormati sistem yang berlaku di organisasi itu sendiri. Mereka akan saling mendukung. Memberikan apapun yang mereka punya untuk kemajuan organisasi. Mereka juga akan saling menghormati, terbuka dengan kekurangan masing-masing untuk saling menjaga dan melindungi. Mereka akan saling berbicara dan mendengar. Tidak ada batas kedekatan di antara mereka. Saling menyayangi karena Allah. Dan di sanalah berkah Allah akan turun, untuk memberikan kekuatan yang lebih kepada organisasi, jauh melebihi kekuatan personal.

Intinya, jangan sampai amanah kita tidak optimal, kompetensi kita tidak berkembang, organisasi kita berantakan, hanya gara-gara ketua atau anggotanya yang tidak optimal. Bisa jadi secara tidak langsung kita telah men-zholimi umat. Coba untuk saling berlomba untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, untuk inisiatif dan memulai dari diri sendiri dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Ingat, yang penting peran bukan posisi. Walaupun posisi juga penting, tapi bukan yang paling penting. Peran jauh lebih penting dari itu.

Sekarang, mari kita lihat lebih dalam kepemimpinan sebagai peran. Peran ditunjukkan oleh sekumpulan perilaku yang membentuk pola tertentu. Yang lebih dalam lagi, pola ini jika sudah menginternalisasi, akan menjadi karakter orang yang bersangkutan. Jadi, secara sederhana bisa dikatakan kalau kita sudah memiliki karakter pemimpin, dimana pun kita, sebagai apapun posisinya, kita akan menjadi pemimpin. Tentunya gunakan persepsi yang sudah dijelaskan panjang lebar di atas.

Pemimpin fokus pada ‘people’, paham bahwa tugas utamanya adalah to change the people, to touch their heart. Mereka memiliki kepekaan yang tinggi akan kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Karenanya mereka akan bersentuhan secara akrab, mendengar suara hati orang-orang di sekitarnya dan mengetahui keinginan dan kompetensi mereka untuk kemudian membantu dan mengembangkannya menjadi jauh lebih baik.
Pemimpin juga adalah orang yang memiliki dorongan yang besar untuk mentransformasi dirinya, organisasinya, orang-orang yang ada di sekitarnya bisa menjadi lebih baik, tidak pernah puas dan tidak pernah cukup dengan hasil yang ada. Mereka sangat berani dan inovatif untuk terus mencoba mencapai tujuan organisasinya.

Pemimpin adalah orang yang fokus untuk berkontribusi, untuk memberi lebih banyak. Tanpa imbalan, penghargaan atau ucapan terima kasih. Menanamkan kebaikan sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Mereka sangat paham bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan manfaat untuk sebanyak mungkin orang. Karenanya dimana pun mereka, mereka akan senantiasa membuat tempat itu jauh lebih baik dengan adanya mereka.

*Notes: Tulisan ini merupakan aplikasi dari nilai Filosofi Hidup CerdasMulia, “Influence”. Apabila Anda ingin menjadi seorang pribadi yang cerdas dan mulia, maka salah satu yang perlu Anda tingkatkan adalah Influence Anda.

Share This:

Comments ( 0 )