Belajar Menjadi Pendengar yang Baik

“Kamu dengerin aku nggak, sih?” Nana terlihat frustrasi setelah beberapa saat memulai ceritanya.

“Iya, aku denger, kok!” jawab Cita sambil tetap memainkan ponselnya.

Sudahkah Cita melakukan apa yang sebenarnya diharapkan oleh Nana? Apakah Nana hanya ingin didengar, atau sebenarnya ingin didengarkan?

Menyimak bukan sekadar mendengar

Dari penggalan percakapan di atas, kita tahu bahwa Cita memang mendengar apa yang Nana katakan. Telinga Cita masih berfungsi dengan baik untuk menangkap suara temannya itu. Namun, apa yang ingin Nana sampaikan bisa jadi lebih dari apa yang dia katakan. Dengan mata yang menatap ponsel, dan pikiran yang terbagi-bagi, saya hampir yakin Cita tidak bisa menangkap dengan menyeluruh isi cerita Nana. Mendengarkan bukanlah menerima informasi dengan pasif dan terjadi begitu saja, melainkan sebuah kegiatan aktif di mana kita memutuskan untuk mendengarkan dan memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pembicara.

Cara mendengarkan secara aktif

  1. Tangkap maknanya

Ada dua komponen dalam sebuah pesan, yakni isi pesan dan perasaan atau sikap yang mendasarinya. Keduanya penting dan membentuk makna pesan tersebut. Makna inilah yang kita coba pahami. “Aku sudah sampai” dan “Akhirnya, aku sampai juga setelah perjalanan panjang itu” sama-sama memiliki isi bahwa si pembicara sudah sampai, tetapi perasaan yang terkandung di dalamnya berbeda. Pada kalimat pertama, pembicara mungkin hanya memberitahu. Sementara itu, pembicara kalimat kedua bermaksud mengatakan bahwa ia lelah. Dengan memahami makna si pembicara, kita dapat memberikan respon yang tepat.

Untuk dapat menangkap makna pesan secara utuh, kita perlu melakukan hal-hal berikut.

a.      Pay attention

Tidak semua pesan yang ingin disampaikan si pembicara dikatakannya. Terkadang ekspresi, gestur, maupun intonasinya melengkapi apa yang disampaikannya secara lisan. Oleh karena itu, kita perlu memberi perhatian penuh pada si pembicara agar semua pesan, baik lisan maupun nonlisan, dapat kita tangkap dengan baik.

b.      Tunda penilaian

Agar pembicara leluasa menyampaikan pesannya, biarkan ia menuntaskan perkataannya. Interupsi yang kita lakukan, apalagi dengan pernyataan yang berlawanan dengannya, akan membuatnya tidak menyampaikan semua yang ingin disampaikannya sehingga pada akhirnya membatasi pemahaman kita terhadap pesan yang ingin disampaikannya.

c.     Konfirmasi

Pastikan kita memahami tepat seperti apa yang ingin disampaikannya. Kita bisa bertanya lebih lanjut, misalnya “Saya kurang menangkap maksudmu saat kamu mengatakan …. Bisa lebih dijelaskan?” atau memparafrase, seperti “Jadi, maksud kamu adalah…. Apa benar demikian?

d.     Sabar

Jika pembicara mengambil jeda dalam pembicaraannya, kita tidak perlu terburu-buru memecah keheningan itu dengan berkomentar atau bertanya. Berikan ia waktu untuk menggali perasaan dan pikirannya, dengan demikian pesan yang disampaikannya dapat lebih mendalam dan menyeluruh.

2.    Tanggapi dengan sesuai

Agar pembicara nyaman dan leluasa menyampaikan pesannya, ia perlu mengetahui bahwa kita mendengarkannya. Dengan menatapnya selama ia berbicara, mengangguk sesekali, menunjukkan ekspresi dan gesture yang menunjukkan keterbukaan, ia akan merasakan bahwa ia didengarkan. Ketika memberikan tanggapan, kita hendaknya menyampaikan pendapat kita dengan jelas, jujur, dan tetap menghargainya.

Dengan mendengarkan, kita menunjukkan rasa hormat kita pada orang lain tanpa perlu mengatakan bahwa kita menghormatinya. Mari menjadi pendengar aktif dan jalin hubungan yang baik dengan orang lain!

Ditulis Oleh: Amelya Dwi Astuti

Share This:

Comments ( 0 )