Bagaimana Memaknai Hidup dengan Bijaksana?

Sebelumnya : Prinsip 0 – Memaknai Arti Hidup yang Sebenarnya

Sahabat CerdasMulia, selamat datang di bagian kedua dalam penjelasan prinsip 0. Kali ini, kita akan sama – sama belajar tentang bagaimana caranya agar kita bisa memahami hidup dengan lebih bijaksana. Namun, apakah Anda sudah membaca bagian sebelumnya yang menjelaskan esensi atau mengapa kita perlu untuk dapat memaknai kehidupan kita? Apabila belum, sebaiknya Anda membaca bagian itu terlebih dahulu.

Untuk Apakah Manusia Hidup? Apakah Hal Paling Penting Dalam Hidup Ini?

Sewaktu saya mengalami kecelakaan dan banyak berbaring di rumah sakit, saya terus – menerus memikirkan apa arti sebenarnya dari hidup ini. Apakah hal paling penting dalam kehidupan saya? Untuk apakah saya hidup di dunia ini? Beberapa yang terpikir adalah seperti pada pembahasan sebelumnya : apakah hidup itu untuk sekedar kaya, berkuasa, atau menjadi seorang pakar saja? Namun, sepertinya hidup bukan untuk sekedar itu. Ada hal lebih dalam yang perlu dimaknai dalam hidup.

Waktu itu saya berpikir polos saja : tidak mungkin Allah menciptakan manusia di muka bumi tanpa tuntunan atau ‘aturan main’. Jadilah saya akhirnya membuka – buka kembali kitab suci Al-Quran yang sangat luar biasa.

Sebenarnya saya sudah diajarkan oleh guru – guru saya sewaktu sekolah dulu, bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Hal ini didasarkan pada QS. Adz-Dzariyat : 56 yang berbunyi,

“Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.”

Namun hingga waktu itu, saya merasa bahwa jawaban tersebut masih sangat normatif dan klise. Saya tentu sepakat bahwa hidup itu untuk ibadah, namun ibadah yang seperti apa? Apakah saya harus terus-menerus ada di dalam masjid, mengerjakan sebanyak – banyaknya shalat dan puasa? Atau yang seperti apa?

Hingga akhirnya saya belajar dari manusia yang menurut saya paling berpengaruh dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, yaitu Nabi Muhammad SAW. Menurut saya, beliau adalah contoh paling sukses dari manusia yang pernah hidup di dunia, sehingga kita pun harus kembali untuk mencontoh beliau dalam menjalani hidup ini. Hingga akhirnya, saya pun menemukan 2 ayat berikut ini yang menjadi sumber inspirasi saya,

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.Ali Imran : 110

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[At-Taubah:71]

Perlahan, mata saya pun akhirnya terbuka tentang bagaimana seharusnya saya memaknai hidup ini. Saya menjadi sadar, bahwa ternyata selama ini sudah demikian lengkap PANDUAN HIDUP untuk setiap manusia, namun ternyata hal seperti ini seringkali terlewat dalam diri kita. Saya menemukan ada 3 kata kunci untuk menyusun makna hidup : terbaik, penolong, dan taat. Apa yang kemudian saya maknai dalam kehidupan ini adalah,

“Hiduplah dengan tujuan untuk menjadi manusia terbaik, agar dapat menjadi penolong banyak orang yang diniatkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.”

Definisi di atas itulah yang kemudian saya gunakan sebagai dasar apa itu yang dinamakan beribadah kepada Allah SWT. Untuk memberikan sedikit gambaran kepada Anda, saya akan menceritakan “Kisah Penyusun Batu Bata” berikut ini,

Kisah Seorang Tukang Penyusun Batu Bata

Pernahkah Anda mendengar kisah 3 orang tukang bangunan yang bertugas untuk membuat sebuah sekolah? Saya pernah mendapatkan ini dari guru saya sewaktu saya SMP.

Alkisah beberapa tahun yang lalu, ada seorang yang kaya raya dan dia ingin membangun sebuah sekolah. Maka dari itu dipanggilah beberapa tukang untuk membantunya mendirikan sekolah tersebut. Di antara beberapa tukang tersebut, ada seorang tukang yang menarik perhatian si orang kaya ini. Dia melihat bahwa setiap hari dan dari hari ke hari, si tukang penyusun batu bata ini selalu antusias dalam bekerja. Wajahnya terlihat senang dan ceria, padahal kerjanya itu sangat membutuhkan tenaga fisik dan cukup melelahkan.

Sementara, tukang – tukang yang lain beda. Ada yang tampaknya bekerja biasa saja, tidak jarang juga ada yang terlihat wajahnya masam dan penuh dengan beban untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena penasaran, akhirnya sang pemilik sekolah ini bertanya ke beberapa tukang penyusun batu bata ini. Berikut adalah 3 jawaban berbeda dari tukang penyusun batu bata tersebut.

A (berwajah masam) : “Saya menyusun batu bata ini untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari – hari.”

B (berwajah biasa) : “Saya menyusun batu bata ini untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga saya.”

C (berwajah bahagia) : “Betapa bahagianya saya diberikan kesempatan untuk menyusun bata demi bata di sekolah ini. Selain saya bisa mencari nafkah yang halal untuk keluarga saya, saya juga membayangkan bahwa kelak batu bata yang saya susun ini akan digunakan untuk menuntut ilmu dan hal – hal yang baik. Maka, saya mengerjakannya dengan penuh kesungguhan agar kelak Allah SWT ridho dan memberi tabungan pahala atas apa yang saya lakukan.”

Kisah sang penyusun batu bata ini, pada awalnya saya pikir hanyalah sebuah cerita motivasi saja dari guru saya. Namun, saat ditelusuri lebih dalam, kisah penyusun batu bata ini memberikan pembelajaran yang dalam kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memberikan makna dalam kehidupan kita sehari – hari. Apa yang dikatakan C, terdapat 3 unsur utama memaknai hidup : terbaik, penolong, dan taat.

Bayangkan apabila seorang pelajar mampu memaknai kehidupan seperti halnya penyusun batu bata C:

“Hari ini saya akan mengeluarkan kemampuan terbaik saya dalam menuntut ilmu. Kelak saya membayangkan ilmu saya bisa digunakan untuk membantu banyak orang dan Allah SWT akan bangga kepada saya karena ilmu yang saya miliki dapat diamalkan untuk hal – hal yang baik.”

Pernyataan di atas adalah kalimat – kalimat yang biasa saya temui dari para mahasiswa berprestasi di Universitas Indonesia. Jarang dari mereka yang hanya fokus untuk menuntut ilmu hanya untuk diri mereka. Namun, mereka juga memiliki impian dengan ilmu yang mereka miliki dapat dijadikan perantara dalam beribadah karena membantu kehidupan orang lain.

Memaknai Hidup : Derajat, Manfaat, Niat

CerdasMulia Institute menggunakan istilah ‘derajat’ untuk mengukur performa terbaik seseorang. Derajat ini dapat diukur dari kekayaan, kedudukan, maupun kepakaran. Sementara untuk mengukur sifat penolong, seseorang diukur dari manfaatnya. Lalu, apakah kemudian segala derajat kehidupan serta manfaat yang dia berikan itu menjadi ketaatan atau tidak, diukur dari niat nya.

Mayoritas manusia seringkali memisah – misahkan antara ibadah akhirat dengan ibadah dunia. Dalam Filosofi Hidup CerdasMulia, ibadah untuk dunia dengan akhirat tidak terpisah, melainkan terintegrasi. Maka dari itu, seseorang yang sukses dunia – akhirat bisa digambarkan sebagai orang yang:

  • Memiliki derajat kehidupan yang tinggi (kekayaan, kedudukan, dan kepakaran)
  • Memberi banyak manfaat kepada orang lain
  • Meniatkan segala aktivitas sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT

Orang yang memiliki makna hidup seperti, akan selalu bersemangat untuk mencari rezeki yang halal, menjadi manusia terbaik untuk menolong orang lain, dan juga taat kepada Allah karena ibadah bukan hanya terletak di masjid atau tempat – tempat ibadah, melainkan juga dalam setiap aspek kehidupan sehari – hari. Ibadah itu bukan hanya di saat – saat tertentu, namun dalam setiap nafas dan langkah kaki kita, itu seharusnya merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dengan memaknai hidup seperti ini, maka kehidupan Anda akan menjadi lebih bermakna dan jauh lebih berdaya.

3 unsur memaknai hidup sebagai bentuk 'ibadah'

3 unsur memaknai hidup sebagai bentuk ‘ibadah’

Jadi, sudahkah Anda menemukan bagaimana memaknai hidup Anda? Saya sangat terbuka untuk diajak berdiskusi apabila Anda ingin berkonsultasi atau ngobrol lebih lanjut dengan saya tentang bagaimana caranya agar kita dapat memaknai hidup kita dengan lebih bijaksana. Silakan Anda kirimkan email ke alamat arry.rahmawan@cerdasmulia.net , saya akan dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan dari Anda.

Ingin Mempelajari Prinsip 0 dengan Lebih Dalam?

Prinsip 0 akan membantu Anda untuk menemukan kembali makna hidup Anda. Prinsip 0 akan menjawab pertanyaan – pertanyaan fundamental mengenai apa itu arti kehidupan dan apa makna terpenting dalam hidup. Silakan Anda pelajari lebih lanjut bagian – bagian dari prinsip 0 berikut ini,

  • Esensi atau Pentingnya Kita Memaknai Hidup
  • Bagaimana Agar Kita Selalu Konsisten untuk Membuat Hidup Kita Bermakna?
  • Tools atau Worksheet yang bisa Anda gunakan untuk Memaknai Hidup Anda
  • Penugasan – Penugasan untuk Mengaktifkan Pijar Prinsip 0
  • Rekomendasi Sumber Lain yang Bisa Membantu Anda untuk Menemukan Apa itu Makna Hidup

 Selanjutnya : Bagaimana Agar Konsisten dalam Memaknai Hidup