Prinsip 0 – Menemukan Makna Hidup yang Sesungguhnya

Sebelumnya : Mengenal Filosofi CerdasMulia

Selamat Datang di Prinsip 0 – Memaknai Hidup yang Sebenarnya

Sahabat CerdasMulia, setelah Anda mempelajari latar belakang dan prinsip filosofi hidup CerdasMulia kini saatnya kita mempelajari prinsip masing – masing dari Filosofi Hidup CerdasMulia. Prinsip pertama yang akan kita pelajari adalah Prinsip 0 – Memaknai Hidup yang Sebenarnya. Mengapa sih, kok prinsip ini tidak dimulai dari 1? Kenapa dimulainya dari prinsip 0?

Maksud dari Prinsip 0 di sini adalah bahwa prinsip ini merupakan prinsip inti atau prinsip kunci yang harus dipahami sebelum mengamalkan prinsip – prinsip lainnya. Prinsip 0 ini berfokus untuk mengoptimalkan potensi hati kita (atau istilah yang dikenal di CerdasMulia Institute adalah Pijar Iman).

Prinsip 0 CerdasMulia - Memaknai Hidup yang Sebenarnya

Prinsip 0 CerdasMulia – Memaknai Hidup yang Sebenarnya

Dalam buku Filosofi CerdasMulia, dijelaskan bahwa ‘Memaknai Hidup’ adalah hal utama dan paling utama sebelum menuju ke prinsip lainnya. Memaknai hidup bahkan sampai diletakkan sebagai prinsip 0 (prinsip zero) dan diletakkan sebagai inti bintang kejora. Dalam tulisan kali ini, kita akan sama – sama belajar tentang:

  • Esensi atau Pentingnya Kita Memaknai Hidup
  • Bagaimana Caranya Kita Memaknai Hidup Kita?
  • Bagaimana Agar Kita Selalu Konsisten untuk Membuat Hidup Kita Bermakna?
  • Tools atau Worksheet yang bisa Anda gunakan untuk Memaknai Hidup Anda
  • Penugasan – Penugasan untuk Mengaktifkan Daya Pancar Prinsip 0
  • Rekomendasi Sumber Lain yang Bisa Membantu Anda untuk Menemukan Apa itu Makna Hidup

Apakah Anda sudah siap untuk mempelajari prinsip 0 dengan lebih dalam? Yuk kita sama – sama belajar!

Esensi dan Pentingnya Menemukan Makna Hidup

Hampir tidak pernah ditemukan di mata pelajaran atau sesi pendidikan formal apapun yang membahas tentang bagaimana seseorang seharusnya memaknai kehidupan yang mereka miliki. Banyak orang terlahir di dunia, tanpa tahu untuk apa mereka hidup di dunia ini. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi adalah banyak orang beranggapan bahwa manusia itu lahir di dunia secara kebetulan dan terpilih lahir di dunia secara acak, sehingga mereka tidak optimal untuk menjalani hidup mereka sendiri.

Itulah yang terjadi apabila kita tidak dapat menemukan makna kehidupan kita sendiri. Beberapa contoh yang seringkali terjadi di hadapan kita, mungkin seperti berikut ini.

Memaknai Hidup dari Ukuran Kekayaan

Apakah Makna Hidup itu Hanya untuk Mencari Kekayaan?

Apakah Makna Hidup itu Hanya untuk Mencari Kekayaan?

Banyak teman atau orang – orang di lingkungan saya yang sangat terobsesi dengan kekayaan. Bahkan, saya memiliki kenalan orang – orang yang begitu terobses untuk menjadi kaya. Mereka menaruh ‘makna hidup pada kekayaan’, sejak kecil sudah didoktrin untuk menjadi orang kaya. Apa yang mereka yakini adalah, “dengan menjadi kaya, maka hidup ini akan jauh lebih mudah dan tidak sengsara.”

Maka dari itu, umumnya kita dibiasakan oleh orang tua untuk belajar dengan rajin sejak SD, SMP, SMA, hingga kuliah agar kita bisa mendapatkan kerja yang bonafid dan bergaji tinggi dengan segala fasilitas yang ada. Harapnnya adalah kita dapat hidup dengan nyaman. Asalkan ada uang, maka semuanya akan beres.

Namun, yang terjadi kemudian adalah karena obsesi terhadap uang yang begitu tinggi, banyak orang yang rela mengorbankan kehormatan mereka untuk bisa mendapatkan uang atau kekayaan dengan lebih banyak lagi. Mulai dari melakukan hal yang tidak terpuji, hingga menjadi skandal korupsi.

Sedihnya lagi, orang yang menitikberatkan makna hidupnya pada kekayaan akan terus merasa was-was karena takut akan kehilangan harta kekayaannya tersebut. Sehingga semakin kaya dirinya, justru akan semakin merasa tidak tenang karena takut kehilangan segala harta bendanya. Dia takut tidak lagi diakui di pergaulannya, dan benar – benar takut saat harta itu akan meninggalkannya.

Orang yang memaknai hidupnya untuk mengejar kekayaan, hidupnya akan selalu diiringi rasa takut akan kehilangan hartanya.

Pertanyaannya kemudian adalah, “Apakah Hidup ini Untuk Mengejar Uang dan Harta?”

Bagi beberapa orang mungkin akan menjawab ‘Ya’ dan banyak orang yang mungkin menjawab ‘tidak’. Apabila hidup itu bukan untuk kaya, lantas untuk apa?

Memaknai Hidup dari Ukuran Kedudukan

Jika hidup bukan untuk kekayaan, maka banyak orang menjawab bahwa hidup itu untuk memperoleh ‘kedudukan’ yang tinggi. Kedudukan ini bisa diartikan sebagai jabatan, posisi, atau kekuasaan yang menyebabkan seseorang memiliki pengaruh yang besar di masyarakat. Mungkin, ada di antara Anda yang memaknai hidup itu untuk memperoleh kekuasaan. Apakah itu salah? Marilah kita melihat beberapa contoh berikut ini.

Orang yang memaknai hidup untuk memperoleh kedudukan maupun kekuasaan, akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh posisi tersebut. Kita sering melihat di televisi saat menjelang pemilukada, misalnya. Pada masa kampanye, banyak sekali calon – calon legislatif yang ‘tiba – tiba berbuat baik’ dengan memberikan sumbangan atau bantuan kepada masyarakat.

Namun, setelah pemilukada berlangsung dan dirinya tidak dipilih, tiba – tiba bantuan tersebut ditarik kembali. Tidak jarang, mereka yang gagal mendapatkan kedudukan yang diinginkan menjadi stress, tertekan, dan bahkan gila karena sudah telalu banyak modal dikeluarkan namun ternyata tidak kembali.

Begitu pula mereka yang sudah mendapatkan kedudukan. Apabila mereka memaknai bahwa kehidupan ini adalah untuk memperoleh kekuasaan sebesar – besarnya, mereka akan berusaha bagaimana caranya agar terus – menerus berada di kedudukan tersebut. Berbagai cara dilakukan agar dapat terpilih kembali atau membuat sistem yang setidaknya membuat anggota atau sanak saudaranya yang berganti memegang kedudukan tersebut.

Orang yang memaknai hidupnya untuk memperoleh kekuasaan sebesar-besarnya, akan selalu takut kehilangan kekuasaannya dan tidak lagi dihormati oleh orang lain saat kekuasaannya sudah habis

Pertanyaan yang kemudian perlu kita renungkan adalah, “Apakah hidup kita ini untuk mengejar kedudukan, peringkat, atau jabatan?”

Jika bukan untuk mengejar kedudukan, lantas untuk apakah kehidupan ini?

Memaknai Hidup Dari Ukuran Kepakaran

Jika hidup bukan dari ukuran kekayaan dan kedudukan, mungkinkah hidup itu diukur dari kepakaran atau kapasitas ilmu yang dimiliki setiap orang? Mungkin kita pernah mendengar orang tua kita memberikan nasihat seperti ini, “harta itu jika dibelanjakan akan habis, namun ilmu jika kita gunakan justru akan memberikan hasil yang lebih banyak.” Sehingga, banyak juga kita temukan di sekitar kita, orang – orang yang memaknai hidupnya untuk fokus meraih ilmu yang setinggi – tingginya.

Namun, orang – orang yang terlalu terobsesi dengan ilmu ini seringkali kita temukan sebagai orang yang individualis, merasa bisa mengerjakan segala sesuatunya sendirian, dan bahkan tidak mudah menerima pendapat orang lain karena merasa bidang keilmuannya adalah yang paling bagus dan paling sempurna.

Jika kepakaran yang kita miliki justru membuat hidup kita menjadi sombong dan tinggi hati, untuk apa kita menjadi seseorang yang memiliki kepakaran?

Lantas, bagaimana dong caranya agar kita dapat memaknai hidup kita dengan lebih bijaksana?

Memaknai Kehidupan yang Tepat dapat Membuat Hidup Selalu Antusias dan Semangat

Kami di CerdasMulia Institute memiliki cara bagaimana melihat seseorang yang mampu memaknai kehidupan mereka : Rasa Antusias, Berenergi, serta rasa Semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan! Pernahkah Anda melihat seseorang yang begitu antusias, senantiasa bersyukur, ceria, dan begitu positif dalam kehidupan mereka? Itu semua karena mereka mampu memaknai hidup mereka.

Orang yang hidup dengan penuh makna, senantiasa merasakan energi yang sangat luar biasa dalam diri mereka. Energi antusias yang besar, energi enjoy yang dahsyat, dan berusaha untuk totalitas dalam menjalankan kehidupan mereka.

Orang yang mampu memaknai hidup bekerja dengan cara seperti ini,

Menemukan Meaning –> Merasa Bahagia –> Mendapatkan Motivasi –> Meraih Materi

Sementara, orang kebanyakan memaknai hidup dengan cara seperti ini,

Meraih Materi –> Mendapatkan Motivasi –> Meraih Materi –> Mendapatkan Motivasi

Siklus yang kedua ini umumnya membuat orang berada dalam lingkaran yang tidak berujung dalam kehidupan dunia yang senantiasa terus-menerus mengejar materi. Hidup mereka tidak diikuti dengan meaning, sehingga walau sebanyak apapun materi yang mereka miliki, akan tiba suatu titik sampai akhirnya mereka akan bertanya,

“Untuk apakah aku hidup di dunia ini?”

“Apakah hal yang paling penting dalam hidupku?”

“Apakah yang harus aku cari selama hidup di dunia ini?”

Pertanyaan – pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang akan dijawab dalam prinsip 0 kali ini. Apabila jawabannya tepat, maka Anda akan dapat menjadi orang yang paling bersemangat di dalam hidup ini.

Pelajari Prinsip 0 dengan Lebih Mendalam

Prinsip 0 akan membantu Anda untuk menemukan meaning atau makna yang paling esensial dalam menjalankan kehidupan Anda sehari – hari. Dengan menemukan meaning, Anda akan menemukan serta mendapatkan motivasi diri secara internal yang kuat. Hal – hal eksternal bukanlah faktor penentu utama motivasi Anda, namun yang paling penting adalah bagaimana Anda dapat terus memotivasi diri Anda sendiri agar terus menjadi lebih baik. Untuk memicu motivasi diri tersebut, Anda membutuhkan meaning dalam hidup Anda.

Silakan Anda dapatkan cara menemukan meaning di bagian – bagian berikut:

  • Bagaimana Cara Kita Memaknai Hidup dengan Bijaksana?
  • Bagaimana Agar Kita Selalu Konsisten untuk Membuat Hidup Kita Bermakna?
  • Tools atau Worksheet yang bisa Anda gunakan untuk Memaknai Hidup Anda
  • Penugasan – Penugasan untuk Mengaktifkan Pijar Prinsip 0
  • Rekomendasi Sumber Lain yang Bisa Membantu Anda untuk Menemukan Apa itu Makna Hidup

Selanjutnya : Bagaimana Memaknai Hidup dengan Bijaksana